Friday, 8 January 2016

Mukzizat! Dampak Positif Setelah Melihat Zina



Allah selalu membukakan pintu taubat kepada umatnya. Itulah yang mungkin bisa digambarkan dalam kisah nyata kali ini.


Terlahir dikeluarga kayak tak menjamin seseorang akan bahagia. Setidaknya itulah gambaran keluarga Malak. Malak adalah gadis dari salah satu negara Arab. Ia tak mendapatkan kasih sayang yang dari keluarganya. Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan ibunya sering bepergian. Fasilitas dan materi telah ia dapatkan sejak kecil kecuali pendidikan agama.
(Baca:
Astaghfirullah!ISIS Menghalalkan Untuk Membunuh Ibu Kandung)

 
Ketika liburan sekolah tiba, Malak berlibur bersama teman-temannya. Mereka sering menyewa ‘villa’ hingga berhar-harii. Ada dua kamar didalam villa itu. Satu kamar untuk perempuan dan satunya untuk laki-laki Siang hari mereka pergi rekreasi dan tentu taka da batasan antaralaki-laki dan perempuan. Malamnya mereka memutuskan untuk beristirahat dan pulang ke ‘villa’.

Satu hari, Malak pergi ke rumah temannya. Rumah itu sepi sehingga para remaja itu bisa berbuat semaunya. Ketika Malak sedang duduk-duduk, seorang teman wanitanya berpamitan mau masuk kamar dengan teman laki-lakinya.


Kemudian temenya mengatakan “Kamu juga bisa masuk ke salah satu kamar dengan laki-laki yang kamu inginkan,” sambil meninggalkan Malak yang sedang mengobrol dengan teman laki-lakinya.

Selang beberapa saat, teman wanita tersebut memanggil Malak. Betapa terperanjatnya Malak, ia melihat temannya tersebut di atas ranjang bersama teman laki-lakinya dalam kondisi tidak sopan dan memalukan.

Malah berteriak dan menampar temannya. kemudian, Malak berlari keluar. Ia pulang meninggalkan aktifitas terkutuk itu sambil menangis. Ada perasaan aneh dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya selama ini telah tersesat tanpa tujuan. Malak menjadi sering menyendiri. Ia suka merenung. Berubah 180 derajat. Tak lagi menyukai musik. Tak lagi menyukai pakaian-pakaiannya yang mahal namun serba terbuka. Bahkan ia tak lagi menyukai rumah mewahnya.

Setelah peristiwa itu, kumandang adzan selalu mengusik jiwanya. Ia memutuskan untuk shalat. Untung di rumah itu masih ada sajadah dan mukena peninggalan neneknya. Ibunya seorang nasrani. Sedangkan ayahnya meskipun mengaku muslim, ia tak pernah terlihat shalat.

Malak tak kuasa menahan air matanya saat bersujud. Ia menangis tersedu-sedu menyesali segala perbuatannya. Hampir satu jam Malak menangis dan berdoa. Itulah untuk pertama kali Malak merasakan ketenangan batin yang tak bisa diungkapkannya.

Selesai shalat, Malak ingat bahwa ia memiliki seorang paman yang cukup alim. Ia pun pergi ke sana untuk belajar agama. Dengan penuh kasih sayang, pamannya mengajarkan wudhu yang benar, shalat dan ilmu-ilmu agama.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghafal Qur’an, Paman?” tanya Malak setelah beberapa hari di rumah penuh berkah itu.

“Insya Allah lima tahun”

“Ya Allah… bisa jadi saya sudah meninggal sebelum lima tahun berlalu,” Malak sedih. Namun ia bertekad untuk menghafalkan Al Qur’an sejak hari itu. Dan masya Allah… dalam waktu tiga bulan Malak berhasil menghafal seluruh Al Qur’an. 30 juz dalam tiga bulan. Ia menjadi hafizhah.

Sumber: Akhwat Muslimah


Dalam serangkaian kebrutalan baru yang dilakukan kelompok “Daulah Islamiyah” atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, seorang pemuda anggota dari kelompok ekstrimis itu pada Jum’at (8/1/2016) dilaporkan telah membunuh ibunya sendiri dalam sebuah eksekusi di hadapan khalayak di Suriah.
Ali Saqr (21) dilaporkan membuat ibunya dibunuh ISIS di depan ratusan orang di Raqqah dengan tuduhan bahwa sang ibu telah murtad. Kabar ini mengutip laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) dan satu kelompok aktivis lainnya yang dikenal sebagai “Raqqa is Being Slaughtered Silent” yang telah memantau perang Suriah melalui sumber-sumber langsung di lapangan.
Ibu Ali Saqr diidentifikasi oleh “Raqqa Is Being Slaughtered Silently” sebagai Lena Al-Qasem (47). Ia dikabarkan dituduh murtad oleh ISIS hanya karena ia berusaha menyadarkan anaknya untuk meninggalkan ISIS dan pergi dari Raqqah.
Ali Saqr, yang merupakan warga asli Suriah, kemudian melaporkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu kepada pemimpin ISIS yang lantas mengklaim bahwa ibunya telah murtad dan memerintahkan untuk membunuhnya.
Para aktivis di lapangan mengatakan bahwa eksekusi terhadap ibu Saqr berlangsung pada hari Rabu (6/1) di dekat sebuah bangunan kantor pos di mana ibu malang itu bekerja.
“Ibunya berbicara dengan dia dan meminta dia untuk meninggalkan ISIS dan meninggalkan Raqqah untuk pergi ke daerah lainnya di Suriah dan Turki,” ungkap Rami Abddulrahman dari SOHR pada Jum’at (8/1). “Setelah itu dia mengatakan kepada ISIS dan, satu, dua, tiga, mereka menangkap ibunya.”
ISIS dikenal telah melakukan sejumlah eksekusi mengerikan dan memposting proses eksekusi brutal mereka secara online, namun Abdulrahman mengatakan bahwa ia tidak mengetahui bilamana pembunuhan itu direkam.
Ini bukan pertama kalinya seorang ekstrimis ISIS membunuh orangtuanya sendiri atas perintah pemimpin kelompok mereka. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa seorang ekstrimis ISIS dari Libanon juga telah membunuh ayahnya sendiri tahun lalu. Ayahnya dilaporkan dibunuh hanya karena ia telah pergi ke Raqqah untuk mengajak anaknya pulang.
SOHR melaporkan pada 29 Desember lalu bahwa ISIS telah mengeksekusi lebih dari 2.000 warga sipil Suriah sejak Juni 2014.
“Raqqa is Being Slaughtered Silent” juga menyebarkan foto Ali Saqr melalui Twitter dari Raqqah.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/01/09/astaghfirullah-ekstrimis-isis-di-raqqah-mengeksekusi-ibunya-sendiri-dengan-tuduhan-murtad-b.html#sthash.15LaoWb6.dpuf
Dalam serangkaian kebrutalan baru yang dilakukan kelompok “Daulah Islamiyah” atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, seorang pemuda anggota dari kelompok ekstrimis itu pada Jum’at (8/1/2016) dilaporkan telah membunuh ibunya sendiri dalam sebuah eksekusi di hadapan khalayak di Suriah.
Ali Saqr (21) dilaporkan membuat ibunya dibunuh ISIS di depan ratusan orang di Raqqah dengan tuduhan bahwa sang ibu telah murtad. Kabar ini mengutip laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) dan satu kelompok aktivis lainnya yang dikenal sebagai “Raqqa is Being Slaughtered Silent” yang telah memantau perang Suriah melalui sumber-sumber langsung di lapangan.
Ibu Ali Saqr diidentifikasi oleh “Raqqa Is Being Slaughtered Silently” sebagai Lena Al-Qasem (47). Ia dikabarkan dituduh murtad oleh ISIS hanya karena ia berusaha menyadarkan anaknya untuk meninggalkan ISIS dan pergi dari Raqqah.
Ali Saqr, yang merupakan warga asli Suriah, kemudian melaporkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu kepada pemimpin ISIS yang lantas mengklaim bahwa ibunya telah murtad dan memerintahkan untuk membunuhnya.
Para aktivis di lapangan mengatakan bahwa eksekusi terhadap ibu Saqr berlangsung pada hari Rabu (6/1) di dekat sebuah bangunan kantor pos di mana ibu malang itu bekerja.
“Ibunya berbicara dengan dia dan meminta dia untuk meninggalkan ISIS dan meninggalkan Raqqah untuk pergi ke daerah lainnya di Suriah dan Turki,” ungkap Rami Abddulrahman dari SOHR pada Jum’at (8/1). “Setelah itu dia mengatakan kepada ISIS dan, satu, dua, tiga, mereka menangkap ibunya.”
ISIS dikenal telah melakukan sejumlah eksekusi mengerikan dan memposting proses eksekusi brutal mereka secara online, namun Abdulrahman mengatakan bahwa ia tidak mengetahui bilamana pembunuhan itu direkam.
Ini bukan pertama kalinya seorang ekstrimis ISIS membunuh orangtuanya sendiri atas perintah pemimpin kelompok mereka. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa seorang ekstrimis ISIS dari Libanon juga telah membunuh ayahnya sendiri tahun lalu. Ayahnya dilaporkan dibunuh hanya karena ia telah pergi ke Raqqah untuk mengajak anaknya pulang.
SOHR melaporkan pada 29 Desember lalu bahwa ISIS telah mengeksekusi lebih dari 2.000 warga sipil Suriah sejak Juni 2014.
“Raqqa is Being Slaughtered Silent” juga menyebarkan foto Ali Saqr melalui Twitter dari Raqqah.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/01/09/astaghfirullah-ekstrimis-isis-di-raqqah-mengeksekusi-ibunya-sendiri-dengan-tuduhan-murtad-b.html#sthash.15LaoWb6.dpuf
Dalam serangkaian kebrutalan baru yang dilakukan kelompok “Daulah Islamiyah” atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, seorang pemuda anggota dari kelompok ekstrimis itu pada Jum’at (8/1/2016) dilaporkan telah membunuh ibunya sendiri dalam sebuah eksekusi di hadapan khalayak di Suriah.
Ali Saqr (21) dilaporkan membuat ibunya dibunuh ISIS di depan ratusan orang di Raqqah dengan tuduhan bahwa sang ibu telah murtad. Kabar ini mengutip laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) dan satu kelompok aktivis lainnya yang dikenal sebagai “Raqqa is Being Slaughtered Silent” yang telah memantau perang Suriah melalui sumber-sumber langsung di lapangan.
Ibu Ali Saqr diidentifikasi oleh “Raqqa Is Being Slaughtered Silently” sebagai Lena Al-Qasem (47). Ia dikabarkan dituduh murtad oleh ISIS hanya karena ia berusaha menyadarkan anaknya untuk meninggalkan ISIS dan pergi dari Raqqah.
Ali Saqr, yang merupakan warga asli Suriah, kemudian melaporkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu kepada pemimpin ISIS yang lantas mengklaim bahwa ibunya telah murtad dan memerintahkan untuk membunuhnya.
Para aktivis di lapangan mengatakan bahwa eksekusi terhadap ibu Saqr berlangsung pada hari Rabu (6/1) di dekat sebuah bangunan kantor pos di mana ibu malang itu bekerja.
“Ibunya berbicara dengan dia dan meminta dia untuk meninggalkan ISIS dan meninggalkan Raqqah untuk pergi ke daerah lainnya di Suriah dan Turki,” ungkap Rami Abddulrahman dari SOHR pada Jum’at (8/1). “Setelah itu dia mengatakan kepada ISIS dan, satu, dua, tiga, mereka menangkap ibunya.”
ISIS dikenal telah melakukan sejumlah eksekusi mengerikan dan memposting proses eksekusi brutal mereka secara online, namun Abdulrahman mengatakan bahwa ia tidak mengetahui bilamana pembunuhan itu direkam.
Ini bukan pertama kalinya seorang ekstrimis ISIS membunuh orangtuanya sendiri atas perintah pemimpin kelompok mereka. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa seorang ekstrimis ISIS dari Libanon juga telah membunuh ayahnya sendiri tahun lalu. Ayahnya dilaporkan dibunuh hanya karena ia telah pergi ke Raqqah untuk mengajak anaknya pulang.
SOHR melaporkan pada 29 Desember lalu bahwa ISIS telah mengeksekusi lebih dari 2.000 warga sipil Suriah sejak Juni 2014.
“Raqqa is Being Slaughtered Silent” juga menyebarkan foto Ali Saqr melalui Twitter dari Raqqah.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/01/09/astaghfirullah-ekstrimis-isis-di-raqqah-mengeksekusi-ibunya-sendiri-dengan-tuduhan-murtad-b.html#sthash.15LaoWb6.dpuf
Dalam serangkaian kebrutalan baru yang dilakukan kelompok “Daulah Islamiyah” atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, seorang pemuda anggota dari kelompok ekstrimis itu pada Jum’at (8/1/2016) dilaporkan telah membunuh ibunya sendiri dalam sebuah eksekusi di hadapan khalayak di Suriah.
Ali Saqr (21) dilaporkan membuat ibunya dibunuh ISIS di depan ratusan orang di Raqqah dengan tuduhan bahwa sang ibu telah murtad. Kabar ini mengutip laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) dan satu kelompok aktivis lainnya yang dikenal sebagai “Raqqa is Being Slaughtered Silent” yang telah memantau perang Suriah melalui sumber-sumber langsung di lapangan.
Ibu Ali Saqr diidentifikasi oleh “Raqqa Is Being Slaughtered Silently” sebagai Lena Al-Qasem (47). Ia dikabarkan dituduh murtad oleh ISIS hanya karena ia berusaha menyadarkan anaknya untuk meninggalkan ISIS dan pergi dari Raqqah.
Ali Saqr, yang merupakan warga asli Suriah, kemudian melaporkan apa yang dikatakan oleh ibunya itu kepada pemimpin ISIS yang lantas mengklaim bahwa ibunya telah murtad dan memerintahkan untuk membunuhnya.
Para aktivis di lapangan mengatakan bahwa eksekusi terhadap ibu Saqr berlangsung pada hari Rabu (6/1) di dekat sebuah bangunan kantor pos di mana ibu malang itu bekerja.
“Ibunya berbicara dengan dia dan meminta dia untuk meninggalkan ISIS dan meninggalkan Raqqah untuk pergi ke daerah lainnya di Suriah dan Turki,” ungkap Rami Abddulrahman dari SOHR pada Jum’at (8/1). “Setelah itu dia mengatakan kepada ISIS dan, satu, dua, tiga, mereka menangkap ibunya.”
ISIS dikenal telah melakukan sejumlah eksekusi mengerikan dan memposting proses eksekusi brutal mereka secara online, namun Abdulrahman mengatakan bahwa ia tidak mengetahui bilamana pembunuhan itu direkam.
Ini bukan pertama kalinya seorang ekstrimis ISIS membunuh orangtuanya sendiri atas perintah pemimpin kelompok mereka. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa seorang ekstrimis ISIS dari Libanon juga telah membunuh ayahnya sendiri tahun lalu. Ayahnya dilaporkan dibunuh hanya karena ia telah pergi ke Raqqah untuk mengajak anaknya pulang.
SOHR melaporkan pada 29 Desember lalu bahwa ISIS telah mengeksekusi lebih dari 2.000 warga sipil Suriah sejak Juni 2014.
“Raqqa is Being Slaughtered Silent” juga menyebarkan foto Ali Saqr melalui Twitter dari Raqqah.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2016/01/09/astaghfirullah-ekstrimis-isis-di-raqqah-mengeksekusi-ibunya-sendiri-dengan-tuduhan-murtad-b.html#sthash.15LaoWb6.dpuf

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mukzizat! Dampak Positif Setelah Melihat Zina

0 komentar:

Post a Comment